Kiprah Ismail Marzuki , Sang Legenda Maestro Musik

 

Rayuan Pulau Kelapa salah satu lagu wajib yang harus bisa dinyanyikan ketika saya masih duduk di SD dan sampai saat ini masih diajarkan di sekolah-sekolah. Lagu tersebut salah satu lagu karya Ismail Marzuki diantara ratusan lagu karya beliau.

Saya menjadi “merasa dekat“ dengan beliau karena banyak lagu karyanya yang saya hafal liriknya dan bisa menyanyikan, tetapi belum ada gambaran seperti apa profilnya. Akhirnya saya mendapatkan foto beliau dari google.

Ismail Marzuki (sumber: dokumen pribadi, lokasi RRI)

Nama kecilnya Ismail dan Marzuki adalah nama ayahnya yang berasal dari Betawi . Ismail sering dipanggil Mail, Maing atau Bang Maing. Beliau Lahir di Kwitang, Senen, Batavia pada tanggal 11 Mei 1914.

 

Sudah sejak muda Ismail Marzuki mempunyai perhatian pada seni musik tetapi tidak pernah belajar musik di lembaga pendidikan. Dengan kemauan dan ketekunan berlatih, pada usia 17 tahun (1931) telah menciptakan lagu berjudul “O Sarinah“ dengan syair dalam bahasa Belanda, yang menggambarkan kondisi kehidupan bangsa yang tertindas. Tahun 1936 beliau yang menguasai berbagai alat musik, masuk dalam orkes musik Lief Java. Dalam kurun waktu tahun 1931- 1939 tercipta beberapa lagu diantaranya mengisi ilustrasi musik film Terang Boelan.

BACA JUGA : MUSIK

Pada tahun 1940 Ismail Marzuki menikah dengan Euis Zuraedah, primadona klub musik Bandung, dimana Ismail Marzuki ikut serta didalamnya. Mereka mengangkat anak bernama Rachmi, yang juga keponakan Euis.

Euis Zuraedah (sumber: dokumen pribadi, lokasi museum MH Thamrin)

Sejak menikah, Euis tidak lagi menyanyi walaupun masih ada keinginan, namun suaminya lebih senang apabila istrinya berada di rumah, menjadi inspirasi dalam mencipta lagu seperti Panon Hideung. Euis menjadi orang pertama yang menyanyikan lagu-lagu yang baru diciptakannya.

Ismail Marzuki merupakan maestro musik dan berpredikat sebagai Komponis Pejuang Legendaris, pencipta lagu bernuansa perjuangan, mendorong semangat kemerdekaan. Lagu-lagunya sangat populer diantaranya Rayuan Pulau Kelapa (1944), Gugur Bunga (1945), Selendang Sutra (1946), Sepasang Mata Bola (1946), Melati Di Tapal Batas (1947), Bandung Selatan Diwaktu Malam (1948), Selamat Datang Pahlawan Muda (1949),  dan beberapa lainnya seperti, Indonesia Pusaka, Aryati, Jangan Ditanya Kemana Aku Pergi, Payung Fantasi, Sabda Alam, Juwita Malam, Kopral Jono, dan Sersan Mayorku.

Pada masa pendudukan Jepang, Ismail aktif di Hoso KanriKyoku, pengganti radio NIROM (radio yang didirikan Belanda). Setelah Kemerdekaan, Ismail Marzuki bekerja di RRI , dan menjadi pemimpin Orkes Studio Jakarta.

Ismail Marzuki wafat pada tanggal 25 Mei 1958 di usia 44 tahun, dimakamkan di TPU Karet Bivak Jakarta. Namanya diabadikan sebagai nama Pusat Kesenian yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jl. Cikini Raya, Jakarta. Pada tahun 2004 pemerintah RI memberikan gelar Pahlawan Nasional.

Yuli Hapsari
Yuli H