Ketika Meriam Tempur Punya Pasangan, Kisah Si Jagur dan Ki Amuk

 

Meriam adalah senjata berat yang larasnya besar dan panjang, pelurunya besar, sering diberi roda untuk memudahkan pengangkutannya. Meriam dipergunakan sebagai senjata pada saat perang. Dalam sejarah kerajaan nusantara, meriam seringkali dipergunakan dalam pertempuran walau untuk membawanya cukup merepotkan.

Sebagai senjata, meriam juga punya nama.

Meriam Si Jagur bentuknya unik, bagian belakangnya berbentuk tangan memakai gelang dengan ibu jari terjepit diantara jari tengah dan jari telunjuk. Arti dalam bahasa Portugisnya “Mano in Figa” dapat di artikan simbol kepercayaan dan kesuburan.

 

Pada bagian punggung meriam, terukir tulisan bahasa latin “Ex me ipsa renata sum“ artinya “saya lahir kembali dari diri saya”, dan terdapat angka latin X+V+ I= XVI. Hal tersebut menjelaskan bahwa meriam tersebut dibuat dari 16 meriam kecil yang dilebur dan digabungkan menjadi 1 meriam.

Meriam Si Jagur (sumber: dokumen pribadi)

Meriam Si Jagur beratnya 3,5 ton, Panjang 3.81 cm dan diameternya 24 cm dan dibuat di pabrik St Jago de Barra, Makao. Mungkin saja penyebutan nama pabrik tersebut (Saint Jago) menjadi sebutan Si Jagur.

Awalnya merupakan meriam milik Portugis yang ditempatkan di Benteng Malaka. Kemudian ketika Malaka dikuasai Belanda pada tahun 1641, Si Jagur dibawa Belanda untuk memperkuat pertahanan VOC di salah satu benteng di Batavia.

BACA JUGA : Benteng Ujung Pandang Fort Rotterdam

Saat ini Meriam Si Jagur berada di halaman Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah), Kota Tua Jakarta.

Konon Meriam Si Jagur memiliki pasangan tempurnya yaitu Meriam Ki Amuk yang berada di area Mesjid Agung Banten.

Meriam Ki Amuk memiliki panjang 3,45 m, kaliber 31 cm dan beratnya 6 ton. Pada bagian punggung tertulis teks Surat 112 (Al Ikhlas) dan tulisan dalam bahasa Arab yang artinya “Akibat yang paling besar adalah kejayaan iman “ (K.G..Crucq).

Meriam Ki Amuk (sumber: dokumen pribadi)

Menurut legenda, Meriam Ki Amuk jelmaan Prajurit Kesultanan Demak yang dikutuk, sedangkan versi sejarah salah satu sumber menyebutkan meriam dibuat di Jawa Tengah sekitar tahun 1527. Awalnya bernama Ki Jimat yang dihadiahkan oleh Sultan Trenggono kepada Sultan Hasanudin Banten.

Konon pula…….Kedua meriam tersebut masing-masing mempunyai kekuatan, bagaimana jika kedua meriam tersebut dipertemukan?

Mungkin ada yang memiliki informasi, kita tunggu beritanya.

Sumber : wikipedia, https://wisatabanten.com/meriam-ki-amuk/

Yuli Hapsari
Yuli H