Yuk Berdamai dengan Penyakit

Saya sering berfikir, kenapa jika ada yang berulang tahun, hampir sebagian besar ucapan yang diterima adalah seperti ini “Selamat ulang tahun …semoga panjang umur”, sebenarnya bisa saja jika ditambahkan menjadi “Selamat ulang tahun …..semoga panjang umur dan sehat selalu” Kenapa saya ingin menambahkan kata “sehat” pada ucapan itu? Menurut saya “sakit itu mahal”.

Hampir sebagian besar orang pasti sependapat bahwa sehat itu adalah segalanya. Punya uang banyak atau berumur panjang, tetapi sakit-sakitan untuk apa? Saya pernah bertanya pada beberapa orang, penyakit apa yang paling “menakutkan”? Saat ini, hampir sebagian besar menjawab Kanker. 

Memang tidak bisa disalahkan jika ada yang berpendapat seperti itu karena, rata-rata ketika seseorang terdiagnosis menderita penyakit kanker, mental mereka akan langsung jatuh dan sejuta kata “mengapa” selalu terucap. Mengapa harus saya yang terkena penyakit ini; Mengapa diagnosis dokter seperti ini?”

Di sini saya akan berbagi cerita tentang perjuangan seorang wanita penerima kanker payudara dan bagaimana ia bisa berdamai dengan penyakit itu hingga saat ini.

 

Tati Fatimah. (Foto koleksi pribadi).

 

Panggil saja Tati, kependekan dari Tati Fatimah, perempuan kelahiran Bandung 11 Juni 1969, ibu dari tiga orang putra. Ia didiagnosis oleh dokter terkena kanker payudara stadium 3 pada November 2011. Pertama kali mendengar diagnosis itu sudah pasti ia kaget tapi tidak membuatnya terpuruk, hidup harus terus berjalan fikirnya saat itu. Semua saran dokter diikuti termasuk kemoterapi.

Baca Juga: Urtikaria Pigmentosa

Untuk mengisi hari-harinya, ia bergabung dengan salah satu komunitas penerima kanker. Dengan seringnya berkomunikasi dan mengikuti seminar yang berkaitan dengan penyakit itu, ia menjadi tahu jika penyakit kanker berkaitan erat dengan kestabilan emosi.

Mulailah ia berdamai dengan penyakitnya, walaupun bukan hal yang mudah dan butuh waktu yang tidak sebentar. Ia singkirkan jauh-jauh pemikiran kalau kanker adalah penyakit yang mematikan. Ia mulai menata emosi dengan tidak pernah lari dari kenyatan. Ia menerima cobaan dan menerima dengan lapang dada juga selalu memaafkan kesalahan orang lain dan yang tidak kalah penting lagi adalah “selalu berpikir positif”.

Narasumber : Tati Fatimah

Ella Irawan
Ella I

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 + one =