GEDONG TINGGI

Di pertigaan Jl. Raya Condet, menuju arah Kampung Rambutan dan Pasar Minggu, di tepi Sungai Ciliwung, terdapat reruntuhan bangunan masa kolonial Belanda. Di depannya terpampang papan bertuliskan Cagar Budaya yang sudah tidak jelas terbaca. Dahulu masyarakat sekitar menyebutnya Gedong atau Gedong Tinggi.

Awalnya merupakan gedung bertingkat dua berwarna kuning, merupakan contoh rumah model country, dikenal dengan berbagai nama yaitu: Groeneveld (green field) atau lapangan hijau, Tandjong-Oost Huis (Rumah Tanjung Timur), Villa Nova, dan Gedong Tinggi.

Sayangnya bangunan tersebut terbakar habis pada tahun 1985.

Foto tahun 1930-an (Sumber foto: https://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Tanjung_Timur)

Baca Juga: ASAL-USUL KOTA PONTIANAK

Gedung dibangun tahun 1756 oleh Pieter van den Velde, seorang anggota Dewan Indies, kemudian dibeli oleh Adrian Jubbels dan tahun 1763, diakuisisi oleh J. Craan, dengan memperbaiki bangunan serta menambah ukiran diatas pintu.

Putri J. Craan menikah dengan Willem Vincent van Riemsdijk, putra Gubernur Jenderal VOC (1775-1777) yang menjadi pemilik gedung tersebut. Salah satu anaknya bernama Daniel van Riemsdijk (1783-1860) menjadikannya lahan pertanian dan peternakan sapi perah sejak tahun 1830-an.

Daniel menikah dengan orang Melayu bernama Mea, mempunyai 3 putri. Putri tertuanya bernama Dina menikah dengan Tjalling Ament yang melanjutkan usahanya. Pada awal abad ke–19 jumlah sapi mencapai 6000 ekor.

Dina (foto: Historical Sites of Jakarta – A.Heuken S.J.)

Pemilik usaha mengembangkan area sekitarnya menjadi pemukiman lokal untuk para pekerjanya yang dikenal sebagai Kampong Gedong. Saat ini wilayah tersebut menjadi nama Kelurahan Gedong.

Baca Juga: LEMBAGA EIJKMAN

Legenda di Gedong Tinggi :

Pada awal abad ke-19 pemilik rumah kehilangan alat makan dari perak, dan mencurigai seorang pegawainya. Ketika ditanyakan kepada orang tersebut, dia menyangkal dengan bersumpah atas nama buaya yang berada di Sungai Ciliwung. Keesokan harinya pemilik rumah ketakutan ketika mendengar berita bahwa orang tersebut dan anaknya dibawa oleh buaya.

Entong Gendut (foto : Museum M.H.Thamrin)

Pada tanggal 5 April 1916, di depan gedung tersebut, Entong Gendut, jawara di wilayah itu memimpin segerombolan orang untuk melawan kesewenang-wenangan.

Untuk mengenang kemegahan Gedong Tinggi, saya membuat cukin (selendang atau syal pria) batik bermotif Gedong Tinggi, yang ternyata cukup banyak peminatnya.

Sumber
1. Historical Sites of Jakarta – A.Heuken SJ, diterbitkan oleh Cipta Loka Caraka
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Tanjung_Timur
3. Museum M.H.Thamrin.
4. https://news.detik.com/berita/2280319/villa-nova-saksi-bisu-pemberontakan-entong-gendut-kini-tinggal-puing

Yuli Hapsari
Yuli S

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two + 4 =