PUTU BUMBUNG

Makanan tradisional kue putu banyak disukai, karena harganya murah, rasanya enak, ada manis-manisnya gula merah, beraroma pandan, dan disajikan dengan parutan kelapa. Sebagian orang menyebutnya putu bumbung, karena cetakannya dari bambu.

Yang menjadi ciri khas dalam menjajakan dagangannya adalah suara bernada tinggi seperti lengkingan yang berasal dari lubang uap air dari alat memasaknya.

Baca Juga: Nikmatnya Kue Serabi

Bahan dasar kue putu adalah tepung beras yang diolah menjadi butiran kasar, dimasukkan kedalam cetakan kecil dari bambu dan tengahnya diisi gula merah. Cara memasaknya, bambu yang telah diisi adonan, diletakkan pada lubang kecil pada ketel atau bejana tertutup, tempat keluarnya uap air mendidih. Hanya sebentar di-uap atau dikukus, kue putu sudah masak; menurut penjualnya karena adonannya sudah setengah matang.

Lubang uap air mendidih ditutup dengan bambu yang telah diberi adonan, lubang uap air lainnya diberi pipa yang dibuat seperti suling. Jika suara lengkingan semakin nyaring, tandanya kue putu sudah matang.

Sejak kapan ya kue putu itu ada?

Menurut penggiat sejarah di Jelajah Jejak Malang (JJM), Mochammad Antik, yang dituliskan oleh republika.co.id, sejarah kue putu dapat ditemukan di China Silk Museum. Penganan seperti kue putu telah ada sejak 1200 tahun yang lalu di Tiongkok, pada masa Dinasti Ming dengan sebutan Xian Roe Xiao Long, yaitu kue dari tepung beras berisi kacang hijau yang amat lembut dan dicetak dalam bambu serta dikukus. Ketika orang-orang Tionghoa datang ke Jawa seperti Laksamana Cheng Ho bersama rombongan, membawa kuliner tersebut. Pada saat itu gula merah lebih mudah dicari daripada kacang hijau maka, terciptalah kue putu seperti yang sekarang ini.

Baca Juga: Si Hitam Manis yang Laris Manis

Masih menurut Mochamad Antik, nama puthu muncul pula dalam Serat Centhini yang ditulis tahun 1814 di masa kerajaan Mataram. Di dalam naskah ada penyebutan serabi serta puthu sebagai makanan sampingan. Peristiwa tersebut sekitar tahun 1630, di Desa Wanamarta, Jawa Timur, diperkirakan berada di Probolinggo, dilihat dari rute perjalanan pelaku cerita naskah, Syekh Amongraga dan Tambangraras.

Saat ini kue putu yang berwarna hijau tidak selalu dari warna asli pandan sehingga aura daun pandan pun sudah hilang; padahal itu merupakan salah satu daya tarik bagi orang-orang untuk membeli. Begitu pula cetakan bambu sudah digantikan dengan bahan lain yang lebih praktis.

Semoga kue putu tetap bertahan seperti aslinya.

Sumber : https://m.republika.co.id/berita/gaya-hidup/kuliner/18/02/11/p3zi6l328-merentang-sejarah-kue-tradisional-puthu

Yuli Hapsari
Yuli S