JARINGAN KERETA API PERTAMA

Melimpahnya hasil perkebunan setelah diterapkannya tanam paksa atau cultuurstelsel, menuntut adanya sarana transportasi yang lebih efisien dan cepat karena penggunaan jalan raya tidak optimal.

Kolonel J.H.R. van der Wijk.

Kolonel J.H.R. van der Wijk, pada tanggal 15 Agustus 1840, menyampaikan gagasan pembangunan jaringan kereta api. Menurutnya jaringan kereta api di Eropa berhasil menyelesaikan masalah transportasi, namun usulan tersebut tak kunjung terwujud.

Baca Juga: Benteng Vredeburg

Baru tahun 1862, pemerintah Belanda mengeluarkan konsesi kepada Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) untuk membangun jalur kereta api Semarang-Surakarta-Yogyakarta yang kaya produksi tebu, kopi, tembakau dll.

(Sumber Lawang Sewu)

Gubernur Jenderal Mr. L.A.J. Baron Sloet van den Beele melakukan pencangkulan pertama pembangunan jalan kereta api di Desa Kemijen di Semarang pada tanggal 17 Juni 1864. Dalam tiga tahun, jalur kereta api pertama Semarang ke Tanggung di Grobogan. sepanjang 26 km, dapat diselesaikan dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 10 Agustus 1867.

Dalam membangun jalur rel kereta api, NIS mendapatkan kesulitan, sehingga didirikan perusahaan kereta api Staatsspoorwegen (SS). Jalur pertama dibangun Surabaya-Pasuruan sepanjang 115 km, diresmikan tanggal 16 Mei 1878.

Baca Juga: Apa Kabar Telepon Umum?

Setelah NIS dan SS menguntungkan, muncul perusahaan kereta api swasta, pada umumnya membangun trem, biayanya lebih murah dan letaknya di sisi jalan raya.

Jalur kereta api tidak hanya berada di pulau Jawa melainkan juga di Madura, Sumatera dan Sulawesi. Sampai dengan tahun 1939 panjang jalan kereta api mencapai 6811 km, namun di tahun 1950 berkurang menjadi 5910 km. Berkurangnya rel sepanjang 901 km, diperkirakan diangkut ke Burma pada masa pendudukan Jepang.

Lokomotif Uap (sumber foto Lawang sewu)

Sampai dengan abad ke-20 rata-rata rangkaian kereta api cepat yang beroperasi di Hindia Belanda (Indonesia) rata-rata di bawah 60 km per jam. Untuk meningkatkan kecepatan, SS memerlukan lokomotif yang bertenaga besar dan lebih berat dari sebelumnya. SS memesan lokomotif kepada tiga pabrik kereta api di Hanomag (Jerman), Richard Hartmann dan Werkspoor.

Dalam kurun waktu 1900-1912, Lokomotif B 51 mulai beroperasi dan Lokomotif SS 600 dikirim ke wilayah Sumatera Selatan, merupakan lokomotif yang handal karena mampu melintasi jalur landai dan jarang mengalami masalah.

Bagaimana dengan kereta api masa kini?

Dengan kemajuan tekhnologi tentunya sudah semakin canggih.

Dahulu kereta api dijalankannya dengan api dari pembakaran kayu, atau mesin uap, menggunakan batu bara. Sekarang memakai diesel tetapi penyebutannya tetap kereta api; sedangkan kereta menggunakan listrik, disebut Kereta Rel Listrik (KRL).

Sumber : Lawang Sewu, brainly.co.id

Yuli Hapsari
Yuli S