GULALI

Ketika saya sedang duduk-duduk di bangku taman dekat pasar Beringharjo, Yogyakarta, saya perhatikan penjual gulali sedang melayani pembeli yang semuanya anak-anak. Karena tertarik melihat gulali dalam berbagai bentuk bunga, saya pun mendekatinya.

Kurniawan di Yogyakarta

Penjual gulali bernama Kurniawan, sudah bertahun-tahun menjajakan gulali. Pernah mencoba peruntungan di Jatinegara, Jakarta; karena sepi pembeli akhirnya kembali ke Yogyakarta.

Kurniawan menjalankan usaha turun temurun mulai dari kakeknya yang diteruskan ayahnya. Menurut Kurniawan sangat mudah membuat gulali dan bahannya mudah didapat yaitu dari pintalan gula yang diberi warna makanan dan dimasak. Sedangkan kemampuan membuat berbagai bentuk gulai didapat melalui pelatihan.

Baca Juga: Es Krim

Gulali “Rambut nenek”di Mayestik, Jakarta

Berbagai jenis gulali dijualnya, di antaranya yang dikenal dengan “rambut nenek” dan harum manis.

Menurut sejarahnya, harum manis atau Cotton Candy pertama kali diperkenalkan pada tahun 1904 di St. Louis World Fair, Amerika Serikat, oleh William Morrison dan John C. Wharton dengan nama “Fairy Floss”, dan sukses besar. Pada saat itu St. Louis World Fair memperkenalkan berbagai makanan baru, salah satunya Fairy Floss.

Hafid penjual harum manis, di Jakarta

Hafid sudah enam tahun berjualan harum manis, pada awalnya bekerja pada seseorang di mal. Akibat harga sewa semakin meningkat, usahanya ditutup. Kemudian Hafid membuka usaha sendiri berjualan di bazar-bazar dan laris manis; pembelinya tidak hanya anak-anak melainkan juga orang dewasa.

Saat ini ia membuka lapak di tepi jalan, mulai pukul 16.00-22.00 setiap hari, ditambah menu kentang goreng, sosis dan bakso bakar. Saat ini ia dibantu istri dan mertuanya.

Menurut Hafid, hasil usahanya cukup untuk membiayai hidup bersama keluarganya di Jakarta.

Sumber: Kurniawan, Hafid, https://id.wikipedia.org/wiki/Gulali.

Yuli Hapsari
Yuli S