Perjalanan Garam

Sejak zaman kuno, garam telah dikonsumsi manusia. Sumber utamanya garam batu, yang dapat ditemukan di berbagai lokasi.

Di masa Romawi Kuno (dimulai tahun 753 SM)  garam menjadi sangat bernilai. Jika seseorang dapat menyajikan garam di meja makan, hal itu menjadi simbol kekayaan. Garam disebut sebagai Sal atau Salubrious yang artinya kristal menyehatkan. Sal juga menjadi awal kata salary (gaji atau upah), berkaitan dengan cara penggajian prajurit Romawi dengan garam.

Garam menyebar ke berbagai belahan dunia melalui jalur perdagangan. Dalam catatan sejarah, Maroko Selatan merupakan pusat perdagangan garam terbesar yang melintasi Sahara ke Timbuktu. Ada pula jalur perdagangan garam lainnya dari Mesir ke Yunani dengan melintasi Laut Tengah dan Laut Aegea.

Di berbagai negara, sumber garam diolah sendiri dengan cara yang masih sederhana. Jejak-jejak sumber garam terdapat di Danau Yungchen, Tiongkok, di mana warga setempat memanen garam di saat musim kemarau dan dibawa ke berbagai negara melalui jalur perdagangan. 

Di lembah Araxes, Azerbaijan, dikenal dengan nama area endapan garam Duzdagi, ditemukan arkeolog tahun 1970-an sebagai peninggalan milenium ke-2 SM. Eksplorasi arkeologi di sekitar terowongan yang runtuh di wilayah Duzdagi ditemukan benda-benda keramik dan palu yang berasal dari periode milenium ke-5 SM. Letak penambangan garam tersebut dekat dengan rute jalan sutera yang menghubungkan Eropa dengan dunia timur, hal ini menunjukkan bahwa produksi garam sangat mungkin menjadi alat perdagangan di wilayah Kaukasus dan sekaligus garam menjadi alat pembayaran.

Di Pakistan terdapat Tambang garam Khewra, sekitar 200 km di Selatan Islamabad, panjang pertambangan 260 km, tinggi 900 meter. Terdapat gua dan terowongan dalam bukit yang dibagi menjadi 17 lantai dan 11 lantai di permukaan tanah. Tambang tersebut sudah dimulai sejak zaman Iskandar Yang Agung, Raja dari Macedonia (tahun 336-323 SM) yang daerah kekuasannya dari Laut Adriatik sampai Sungai Indus.

Tambang garam ditemukan tidak sengaja ketika prajurit perang sedang beristirahat di area tersebut, melihat kuda-kuda makan tanah yang mengandung garam.

Di Salzburg, Austria, tambang-tambang garamnya sudah dimanfaatkan ratusan tahun, salah satunya dijadikan tempat wisata yaitu Hallstatt. Dalam Bahasa Celtic, Hall berarti garam, sehingga Hallstatt artinya lokasi garam. Kota ini merupakan situs warisan dunia UNESCO dan menjadi destinasi popular turis.

Di Madura, konon munculnya petambak garam pada abad ke-15 ketika prajurit dari Bali menyerang Madura sebagai balasan serangan Joko Tole asal Madura yang diutus Majapahit melawan Kerajaan Blambangan. Serangan tersebut gagal, oleh Pangeran Wetan, mereka mendapat pengampunan dan diberi lahan di daerah Gir Papas, Madura. Salah satu pemimpinnya bernama Anggasuto mempunyai gagasan mengkristalisasi air laut, dijadikan butir-butir garam di lahan tepi pantai dengan sinar matahari. Usahanya berhasil, prajuritnya bekerja menjadi petani garam dan terus berlanjut hingga sekarang.

Ada versi lainnya, Anggasuto adalah seorang ulama keturunan Parsi, saat menyusuri daerah Gir Papas, mendapati kakinya dipenuhi Kristal garam. Hal itu membuatnya terinspirasi untuk mengajarkan penduduk cara membuat garam sambil mengajarkan agama Islam. Sampai saat ini Madura dikenal dengan daerah penghasil garam.

 

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Aleksander_Agung , puraindonesia.com

https://hurahura.wordpress.com/2011/02/23/di-manakah-tambang-garam-pertama-di-dunia/

http://agustinuswibowo.com/1925/titik-nol-176-tambang-garam/

https://daimca.com/2018/04/25/sejarah-dimulainya-tambak-garam-di-madura/