Kopi Luwak, Yakin Masih Mau Minum?

 

“Luwak”, penyebutan orang Jawa kepada hewan Musang, nama latinnya Asian palm civet. Hewan tersebut tersebar di bagian selatan Asia, seperti: India, Bangladesh, Butan, Malaysia, dan Indonesia.

Luwak, mempunyai panjang dari kepala hingga ekor sekitar 50-90 cm, merupakan hewan penyendiri, sulit ditemukan karena ia bisa menandai daerahnya sehingga jika ada manusia atau hewan datang, ia lari bersembunyi.

Luwak dalam kandang untuk mengenalkan sosok luwak dan kotorannya, kepada pengunjung sedangkan penangkarannya dalam suasana alam terbuka.

 

Habitat aslinya di hutan, tinggal di batang pohon tinggi dan aktif mencari makanan malam hari ke dataran rendah dan perkebunan. Makanan utamanya buah-buahan seperti: pepaya, pisang, juga pemakan hewan kecil dan serangga, juga tikus, anak burung, dan kumbang.

BACA JUGA : Barista, Sang Peracik Kopi?

Di alam bebas, Luwak dengan indera penciuman yang tajam akan memilih buah-buahan yang baik dan masak termasuk buah kopi. Luwak memiliki sistem pencernaan sederhana sehingga biji kopi yang keras tidak dapat tercerna, kemudian difermentasi dalam pencernaannya. Oleh karenanya biji kopi masih utuh dalam kotoran Luwak.

Dengan meningkatnya kebutuhan kopi Luwak, jika mengandalkan dari kotoran Luwak liar, akan sulit mencukupi kebutuhan maka, dilakukan penangkaran Luwak oleh produsen. Hal ini mendapat penolakan dari aktifitas lingkungan karena dianggap sebagai penganiayaan terhadap hewan, Luwak menjadi stres dalam kandang yang sempit, akan menjadi kurang sehat jika makanan yang diberikan terbatas jenisnya.

Hal itu diatasi dengan penangkaran yang tetap memperhatikan kebutuhan Luwak. Peternakan dan penangkaran Luwak mendapat dukungan karena keberadaan Luwak di alam liar dan di area perkebunan bukan kopi, dianggap sebagai hama.

Sumber : https://www.sasamecoffee.com/kopipedia/mengenal-kopi-luwak/ , http://kopiluwakamstirdam.com/sejarah-kopi-luwak-indonesia/

Yuli Hapsari