Museum Santa Maria

 

Saya mendapat kesempatan berkunjung ke Museum Santa Maria Jakarta, ketika menghadiri undangan dari Asosiasi Museum Indonesia DKI Jakarta, Paramita Jaya. Kegiatannya Temu MuGaleMon (Museum, Galeri, Monumen) dengan acara Presentasi Max Meiler, Sekretaris ICOM (International Council of Museum) dengan tema “Museum as Cultural hubs: the Future of Tradition”. Diadakan di Aula SD Santa Maria jl Ir. H.Juanda no 29 Jakarta, dilanjutkan dengan kunjungan Museum Santa Maria sekaligus merayakan sewindu berdirinya museum.

Museum berada dalam satu area pendidikan terdiri dari KB, TK, SD, SMP, SMK, asrama, dan kapel Santa Maria; bangunannya memanjang dari jalan Juanda hingga jalan Pintu Air 2, Jakarta.

Museum didirikan pada tanggal 6 Februari 2011, diprakarsai oleh pemimpin biara Sr. Ingrid Widhiningsih, yang selama 1,5 tahun mengumpulkan, membersihkan, dan mengatur artefak-artefak dari berbagai sudut biara dengan memanfaatkan ruang-ruang kosong yang sudah lama tidak dipakai.

Di Museum terdapat beberapa ruangan, yaitu: Ruang Angela, di mana terdapat foto tujuh suster Ursulin, foto kapal Herman, dan beberapa foto lainnya, Ruang Misi, terdapat peralatan menjahit dan memasak, Ruang Liturgi yang memamerkan benda dan peralatan doa para suster, Ruang Relikui yang menyimpan lebih dari lima puluh relikui Orang Kudus disertai sertifikat keasliannya, serta Ruang Alumni, Ruang Kerja, Ruang Tidur, Ruang Makan, Ruang Bermain, dan Ruang Belajar, yang memamerkan berbagai lemari kuno dan alat kebutuhan pribadi perlengkapan masak para suster.

Pada awalnya, tiba di Batavia, tujuh suster Ursulin pertama dari kota Sittard, Belanda, dipimpin oleh Sr. Ursula Martens (duduk nomor 2 dari kanan). Perjalanan mereka dengan kapal layar Herman, selama 140 hari dari tanggal 20 September sampai 7 Februari 1856. Mereka tinggal di Noordwijk 29 Batavia, (Ir. H. Juanda 29) yang telah dibeli oleh Mrg. Vrancken. Satu suster wafat, yaitu Suster Emmanuel Harris OSU (duduk nomor 1 dari kanan) empat hari setelah tiba di Batavia.

Suster Ursulin membuka sekolah putri berasrama pertama pada 1 Agustus 1856, dengan murid anak-anak Belanda, 62 anak TK (frobel), 295 anak SD (Langere School) serta 40 asramawati.

Pada awal Januari tahun 1891 dibuka sekolah menjahit khusus putri, sebagai cikal bakal sekolah kejuruan seperti SKP, SGKP, SKKA, hingga sekarang menjadi SMK Santa Maria.

Tahun 2014, Museum Santa Maria bergabung dengan Permuseuman DKI. Museum dibuka untuk umum pada hari Senin-Jumat pukul 08.00-14.00 dan Sabtu pukul 08.00-13.00 wib.

BACA JUGA : Manusia Purba Indonesia

Sumber : Museum Santa Maria

Yuli Hapsari