Sejarah Angklung

 

Angklung adalah alat musik tradisional dari Jawa Barat yang terbuat dari tabung-tabung bambu. Jika tabung-tabung tersebut digoyangkan, benturan badan tabung bambu tersebut mengeluarkan suara atau nada.

Angklung mendapat pengakuan sebagai alat musik Indonesia, sejak 18 November 2010 terdaftar sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity dari UNESCO.

Kapan angklung mulai dimainkan?

Tidak ada petunjuk kapan dimulainya, diduga bentuk primitifnya digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara.

Angklung menjadi bagian dari relik pra-Hinduisme kebudayaan Nusantara.

Upacara Mapag Sri. Sumber foto: Museum Sri Baduga

Di masa Kerajaan Sunda (abad XII – XVI), masyarakatnya agraris, padi sebagai makanan pokok. Berkaitan dengan kegiatan bertani, dilakukan upacara Mapag Sri sebagai penghormatan terhadap Nyi Pohaci Sanghyang Sri atau Dewi Padi yang memberi sumber kekuatan hidup kepada manusia. Ritual diiringi bunyi tabuh dari batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian menjadi struktur alat musik bambu yang kemudian dikenal dengan Angklung.

Ritual Mapag Sri masih dilakukan di beberapa daerah untuk menyambut panen dan juga tanam padi, biasanya diiringi kesenian Rengkong dan Angklung Gubrag yaitu angklung yang tidak mempunyai tangga nada, terdiri dari enam bilah angklung yang masing-masing mempunyai nama.

Suara rampak dari Angklung Gubrag sebagai iring-iringan saat nandur (menanam padi) diyakini dapat menggetarkan tumbuhan sehingga padi dapat cepat tumbuh.

Awalnya angklung hanya bisa memainkan nada pentatonis yaitu terdiri dari lima nada pokok. Atas jasa Pak Daeng Soetigna, pada tahun 1938 angklung dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan nada diatonis, yaitu terdiri dari tujuh nada yang berjarak satu dan setengah nada. Maka angklung bisa memainkan musik-musik internasional sehingga dikenal dunia. Disebut dengan Angklung Padaeng.

Tahun 1966, didirikan Saung Angklung Udjo (SAU) di Bandung untuk mewujudkan cita-cita dan harapan Pak Udjo (alm) yang atas kiprahnya dijuluki sebagai Legenda Angklung, yaitu angklung sebagai seni dan identitas budaya yang membanggakan.

Pak Udjo meneruskan misi Daeng Soetigna memperkenalkan angklung ke semua orang di seluruh dunia agar dikenal di mana-mana dengan sebuah gagasan bahwa melalui penampilan kesenian musik angklung, akan dapat membantu mendorong terciptanya kedamaian di dunia.

dok. pribadi

Saat ini selain Angklung Padaeng, ada pula Angklung Pa Udjo yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras pelog dan slendro. Juga ada Angklung Toel, diciptakan oleh Pak Yayan Udjo, putra Pak Udjo, menghadirkan angklung dengan bentuk mirip piano, satu orang bisa memainkan lagu serta Angklung Sri Murni gagasan Eko Mursito Budi yang khusus diciptakan untuk keperluan robot angklung.

BACA JUGA : Saung Angklung Udjo

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Angklung; https://belajar.kemdikbud.go.id/PetaBudaya/Repositorys/angklung/; https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/angklung-gubrag-kesenian-yang-lahir-dari-budaya-tanam-masyarakat-adat; www.angklung-udjo.co.id

Yuli Hapsari