Mengenal Bapak Angklung Daeng Soetigna

Indonesia mempunyai alat musik tradisional yang disebut angklung, atas jasa Pak Daeng Soetigna, angklung tradisional yang awalnya hanya bisa mengeluarkan nada pentatonis dibuat sedemikian rupa menjadi angklung diatonis sehingga angklung bisa memainkan musik-musik internasional.

Pak Daeng Soetigna mendapat Penghargaan Nasional Hak Kekayaan Intelektual 2013, Pencipta Angklung oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Republik Indonesia, Amir Syamsudin, 26 April 2013

Daeng Soetigna (Foto: Situs Musik Angklung)

Mas Daeng Soetigna, lahir pada 13 Mei 1908, di Garut, Jawa Barat. Ayahnya bernama Mas Kartaatmadja dan ibunya Nyi Raden Ratna Soerastri. Sebagai putra bangsawan, beliau dapat mengikuti pendidikan zaman Belanda di HIS dan HIK yang pada masa itu sangat terbatas bagi pribumi. Kemudian menjadi guru dan di tahun 1955 melanjutkan pendidikan Teacher’s College Australia dalam program Colombo Plan.

Ayahnya mempunyai sahabat dari Makasar bernama Daeng, seorang yang sangat pandai, pada waktu itu ibunya sedang mengandung. Ayahnya mengatakan jika anaknya laki-laki akan diberi nama Daeng, agar pandai seperti sahabatnya. Ketika ibunya melahirkannya, diberi nama Mas Daeng Soetigna.

Pak Daeng Soetigna dapat memodifikasi angklung yang tadinya pentatonis (terdiri dari lima nada) menjadi diatonis (terdiri dari tujuh nada), sehingga bisa memainkan berbagai jenis lagu dan angklung semakin dikenal di dunia. Angklung tersebut diberi nama kehormatan Angklung Padaeng. Beliau juga seorang komposer, menulis puluhan aransemen lagu untuk angklung.

Keberhasilan dalam membuat Angklung Padaeng tidak terlepas dari beberapa orang, antara lain:

  • Pengemis yang memainkan angklung dengan lagu “Cis Kacang Buncis”, kemudian peralatan angklung tersebut dibeli. Beliau mendapat inspirasi memakai angklung sebagai alat mengajar seni musik menggantikan mandolin dan biola yang saat itu harganya mahal;
  • Pak Djaja, empu pembuat angklung yang berusia lanjut, menerima ide untuk membuat angklung dengan tangga nada diatonis. Dengan pengalamannya berhasil mewujudkannya;
  • Pak Wangsa, petani yang mengerti tentang bambu, bahwa bambu akan awet dipotong pada saat uir-uir berbunyi sebagai tanda dimulainya musim kemarau, bambu pada keadaan kering;
  • Pak Setiamihardja, guru ketrampilan, juga sahabat ketika berada di Kuningan, dialah pembuat angklung yang sangat terampil dan apik dalam mengerjakan angklung.

Pak Daeng Soetigna dapat mengangkat martabat kebudayaan asli tradisional Jawa Barat hingga dikenal dunia internasional. Beliau wafat di Bandung tanggal 8 April 1984 di usia 75 tahun.

BACA JUGA : Sejarah Angklung

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Daeng_Soetigna; https://www.wikipedia.web.id/2016/05/daeng-soetigna.html; https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20160513082840-227-130423/jasa-daeng-soetigna-bikin-angklung-naik-kelas

Yuli Hapsari