Soekarno Pecinta Buku

 

Kita mengenal Ir. Soekarno sebagai Proklamator Kemerdekaan Indonesia, dan sebagai Presiden Pertama Republik Indonesia yang disegani para pemimpin dunia dan juga sebagai pecinta buku. Kemampuan merangkai kata-kata menjadi pidato yang menggugah bangsa, keluar dari pemikiran beliau, tentunya didapat dari referensi luar biasa, yaitu dengan banyak membaca.

Sebagaimana dikutip dari buku Revolusi Belum Selesai: Kumpulan Pidato Presiden Soekarno saat berpidato di Istana Bogor pada 25 November 1965, Bung Karno mengatakan : “ …..Saya ini, boleh dikatakan sebagian daripada hidup saya itu pekerjaan cuma membaca, membaca, membaca, membaca, membaca”.Sebab, membaca menambah pengetahuan kita, membuat kita manusia kultur yang tinggi nilainya.”

Sejak kecil, Soekarno sudah hobi membaca, yang terus berlanjut hingga menjadi orang nomor satu di Indonesia. Ketika bersekolah di HBS Surabaya, sering berkunjung ke perpustakaan Perkumpulan Teosofi di Surabaya, kemudian kuliah di ITB dan selesai tahun 1926.

Kehidupan selanjutnya banyak diisi dengan pergerakan nasional, membangkitkan semangat bangsanya untuk kemerdekaan. Beliau mengalami beberapa kali masa pengasingan, antara lain di penjara Bandung, Bangka, Ende, dan Bengkulu.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Ir. Soekarno menjadi Presiden RI, tahun 1945-tahun 1967. Beliau mendapat 26 gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa), 19 dari universitas luar negeri dan tujuh universitas dalam negeri: UGM (1951), ITB (1962), UI ( 1963), Universitas Hasanudin (1963), IAIN Jakarta (1964), UNPAD (1964), dan Muhammadiyah Jakarta (1965).

Sumber foto: ugm.ic.id

Bagaimana cara beliau membaca buku, sebagaimana disampaikan dalam petikan yang dimuat dalam buku Soekarno, Ilmu dan Perjuangan (1984):“Pernah saya bicarakan di dalam pidato-pidato saya, antara lain pidato saya di Senayan, bahwa oleh karena saya dulu itu mahasiswa miskin, saya tingggalkan dunia yang materiil ini, kataku – I left the material world – lantas saya masuk in the world of the mind, masuk di dalam alam khayal, alam pikiran – I went into the world of the mind, kataku.

Artinya, saya masuk di dalam buku-buku, saya membaca buku banyak sekali, malahan saya berkata, “in the world of the mind, I met the great man”. Di dalam alam khayal, di dalam alam pemikiran itu, saya berjumpa dengan orang-orang besar, kataku, saya berjumpa dengan Karl Marx, saya berjumpa dengan Friederich Engel, saya berjumpa dengan Kautsky, saya berjumpa dengan Mahatma Gandhi, saya berjumpa dengan Thomas Jefferson, saya berjumpa dengan Franklin Delano Roosevelt, saya berjumpa dengan Gladstone, saya berjumpa dengan Poincare, saya berjumpa dengan dengan Talleyrand, dan pemimpin-pemimpin dunia yang lain, orang-orang besar”.

BACA JUGA : PESAN JACK MA

Sumber: https://www.dw.com/id/belajar-dari-sukarno-sang-pecinta-dengan-buku-bukunya/a-43939123; https://www.bastamanography.id/kata-soekarno-tentang-buku-ilmu-dan-amal/; https://kumparan.com/@kumparannews/para-pendiri-bangsa-yang-menggilai-buku; https://nasional.okezone.com/read/2017/05/13/337/1690255/news-story-ketika-bung-karno-berkisah-sering-tidur-di-antara-buku-majalah; https://tirto.id/puluhan-doktor-honoris-causa-untuk-sukarno-cF21

Yuli Hapsari