Fakta dibalik Pembacaan Teks Proklamasi

Foto karya Frans Mendur

Banyak orang menduga bahwa teks prolamasi yang sering kita dengar baik di radio maupun televisi adalah yang dibacakan oleh Soekarno bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. Namun ternyata anggapan itu salah, yang sebenarnya terjadi rekaman itu dibuat 6 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1951.

Tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno membacakan teks Proklamasi yang menandakan bahwa Indonesia telah merdeka. Teks proklamasi itu dibacakan di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta tanpa sempat untuk direkam tetapi hanya disiarkan begitu saja, mengingat Indonesia saat itu sangat diawasi oleh Jepang.

Kala disore hari masih di tanggal 17 Agustus 1945, ketika Jusuf sedang berada di sebuah radio militer milik Jepang “Hoso Kyoku” yang bernaung dalam jaringan Kantor Berita Domei, tiba-tiba muncul seorang pemuda bernama Syahruddin masuk keruangan itu dengan membawa secarik kertas, yang ternyata adalah teks Proklamasi dan pesan dari Adam Malik bahwa isi dari kertas itu harus disiarkan.

Baca Juga: Soekarno Adalah Seorang Pecinta Buku

Jusuf segera memutar otak bagaimana teks proklamasi itu dapat tersiar tanpa diketahui oleh Jepang. Akhirnya tepat pukul 19.00 WIB di salah satu studio yang sudah tidak terpakai lagi, Jusuf pun membaca berita seputar Proklamasi, juga membaca ulang teks proklamasi yang sudah dibaca oleh Soekarno sebelumnya.

Sontak setelah dua jam teks proklamasi disiarkan, satu regu tentara militer Jepang menyerbu ke dalam studio dan semua dihajar habis-habisan bahkan sempat samurai terhunus untuk menebas leher Jusuf dan Bahtiar Lubis, namun keberuntungan masih berpihak kepada mereka, ketika pimpinan radio Jepang tiba-tiba masuk dan meminta mereka berdua untuk dibebaskan.

Enam tahun kemudian adalah Jusuf Ronodipuro yang meminta Presiden Soekarno untuk merekam pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan. Niat itu sempat ditentang Soekarno karena menurutnya pembacaan teks proklamasi hanya berlaku satu kali.

Namun Jusuf tidak menyerah dan terus membujuk Soekarno untuk membacakan dan direkam ulang agar dapat didengar oleh semua orang terutama generasi penerus.

Akhirnya Soekarno pun menyerah dan bersedia untuk membacakan kembali. Proses perekaman itu dilaksanakan pada tahun 1951 di studio RRI yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Barat 4-5, Jakarta.

Hasil rekaman tadi lalu dikirim keperusahaan piringan hitam Lokananta, Solo. Piringan hitam itu berukuran 10 inci dengan kecepatan 78 rpm, ukuran piringan hitam yang biasa diputar di gramofon.

Jusuf Ronodipuro meninggal pada tanggal 27 Januari 2008, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, dan hingga kini kita semua mengenangnya sebagai salah satu orang yang mempunyai peranan besar dalam menyiarkan kemerdekaan Indonesia kepada seluruh dunia.

Sumber: Drs. Daulat Pane; https://nasional.kompas.com

Ella Irawan
Ella I