LAYANG-LAYANG, SELAYANG PANDANG

 

Kuambil buluh sebatang, kupotong sama panjang,

kuraut dan kutimbang dengan benang, kujadikan layang-layang

Syair lagu gubahan Pak Kasur, menggambarkan suatu permainan yang sederhana, murah, dan menyenangkan. Layang-layang dapat dimainkan segala usia dengan memanfaatkan kekuatan hembusan angin untuk mengangkatnya. Layang-layang tidak hanya untuk permainan dan dilombakan saja tetapi memiliki berbagai fungsi seperti untuk ritual, menjadi alat bantu penelitian ilmiah, menjadi media energi alternatif juga pengobatan, dan masih banyak manfaat lainnya.

Layang-layang sudah lama ada, dalam dokumen Tiongkok, sekitar tahun 2500 SM menyebutkan permainan layang-layang, sedangkan di Indonesia penggambaran layang-layang terdapat pada gua periode Mesolitik, di Pulau Muna Sulawesi Tenggara, sejak 9500-900 tahun SM yang disebut Kaghati Kolope.

Lukisan orang sedang main layang-layang di dinding gua Sugi Patani di Desa Liangkobori, Muna.

Sumber: http://en.gocelebes.com/kaghati-worlds-first-kite/

Kaghati Kolope diterbangkan oleh nenek moyang di Muna, sebagai sarana spiritual. Selama tujuh hari Kaghati diterbangkan, kemudian talinya diputus dibiarkan terbawa angin. Dimaksudkan Kaghati Kolope yang akan memandu jiwa sang pemiliknya setelah meninggal ke tempat Tuhan berada.

Sejak abad ke-18, layang-layang dipergunakan sebagai alat bantu penelitian cuaca, seperti yang dilakukan Benyamin Franklin, menggunakan layang-layang yang terhubung dengan kunci untuk menunjukkan bahwa petir bermuatan listrik.

Dengan cara kerja layang-layang, dibuatlah layar raksasa dari bahan sintesis pada kapal pengangkut. Ketika angin bertiup dengan kencang, layang-layang dapat menarik kapal melaju dengan cepat sehingga menghemat penggunaan bahan bakar.

Dari pengalaman orang yang hobi menaikkan layang-layang, menurut mereka dapat menghilangkan stres, keluar dari rutinitas, juga bisa untuk terapi anak autis dan yang terkena trauma psikologis.

Lain halnya dengan layang-layang yang dilombakan apalagi tingkat dunia, layang-layang dibuat dalam berbagai bentuk dan mahal harganya, bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Tahun 1977 dalam Festival Layang-layang Internasional Berck sur Mer di Perancis, Indonesia sebagai juara pertama diwakili oleh Layang-layang Kaghati Kolope yang diterbangkan oleh La Sima dari Muna Sulawesi Tenggara.

Kaghati pembuatannya dari daun Kolope (ubi hutan sejenis gadung) yang dikeringkan, dijalin dengan potongan bambu yang ditipiskan dan benangnya dipintal dari serat nanas hutan. Namun Kaghati Kolope sangat kokoh, mampu berhari-hari diangkasa, bersaing dengan layang-layang dari negara lainnya.

Sumber: https://fauzihisbullah.wordpress.com/2015/01/04/wisata-budaya-muna-barat-kolope-kaghati-layang-layang-prasejarah-tertua-di-dunia/

Menerbangkan layang-layang perlu berhati-hati, jangan berada dekat tiang listrik yang dapat menyebabkan layang-layang tersangkut di kabel listrik. Dilarang di sekitar bandara yang dapat mengganggu penerbangan. Demikian pula penggunaan tali gelasan dan kawat sangat berbahaya, telah banyak membawa korban terkena tajamnya tali layang-layang.

BACA JUGA : ASAL USUL KOTA PONTIANAK

Sumber: https://id.wikipedia.org; ttps://www.slideshare.net/septianraha/kaghati-layang-layang-pertama-di-dunia-ada-di-pulau-muna; https://www.kompasiana.com/kadirsaja/55288f6e6ea834b8198b459b/kaghati-kolope-jejak-layang-layang-tertua-di-dunia; http://www.koran-jakarta.com/permainan-layang-layang-dari-hobi-hingga-kompetisi-/; https://tirto.id/banyak-korban-pemain-penjual-layangan-di-pontianak-ditindak-dpuH; https://almushtafa.wordpress.com/2014/04/21/manfaat-layang-layang/

Yuli Hapsari