Selamat Jalan Mr. Crack

 

source : http://kanaljabar.com

Mengenang Bacharuddin Jusuf Habibie, bukan hanya kisah cintanya dengan Ainun yang membuat kita kagum tapi juga karena beliau sebagai satu di antara putra terbaik bangsa yang meniti karir sebagai teknokrat, kemudian mengembangkan industri teknologi kedirgantaraan di Indonesia.

Beliau mendapat gelar Diploma dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 yang kemudian mendapatkan gelar Doktor dari tempat yang sama tahun 1965 dengan predikat Summa Cum Laude. Tahun 1967, menjadi Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung, lalu bekerja di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, sebelum memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia.

Pada dekade 1960-an B.J. Habibie mencetuskan sebuah teori keretakan konstruksi badan pesawat atau Crack Progression Theory. Di dunia iptek, para ahli dirgantara mengenal Crack Progression Theory dengan nama Faktor Habibie, Teori Habibie, atau Fungsi Habibie. Berkat temuan pentingnya, menjadikan Habibie dijuluki sebagai Mr. Crack.

Crack Progression Theory menjadi sebuah jawaban selama 40 tahun sejarah dunia penerbangan komersial karena teori ini menjadi solusi dari masalah yang dapat ditimbulkan oleh retaknya bagian sayap dan badan pesawat akibat mengalami guncangan selama take off dan landing.

Faktor Habibie masih dijadikan pedoman dalam pembuatan pesawat terbang seluruh dunia hingga saat ini, dan diakui oleh lembaga penerbangan Eropa. Salah satunya adalah Airbus yang merupakan perusahaan penerbangan untuk negara-negara Eropa, Prancis, Jerman, Spanyol, dan Amerika. Airbus mengadopsi teori ini pada pesawat seri A300 yang mereka produksi di medio 1972 hingga 2006.

Pada 1976, Habibie mendirikan PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang kini menjadi PT Dirgantara Indonesia. Habibie juga menginisiasi pembuatan pesawat Gatotkaca N-250 yang diterbangkan pertama kali pada 1995 di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Gatotkaca N-250 merupakan pesawat baling-baling dengan rute penerbangan perintis yang memiliki kapasitas 50-70 penumpang. Namun dikarenakan Indonesia mengalami krisis moneter tahun 1997, menyebabkan pesawat ini tidak diproduksi massal.

Tahun 2017, Visi Dirgantara Indonesia berlanjut dengan berhasilnya uji terbang pesawat N-219, sebuah pesawat kecil dengan kapasitas tidak lebih dari 19 orang.

Ilham Habibie turut terjun ke dunia penerbangan dengan mendirikan perusahaan pesawat terbang yang bernama PT Regio Aviasi Industri. Sebuah perusahaan yang mampu membangun R-80 yang mirip dengan N-250.

Habibie pernah mengatakan jika industri dirgantara hendak berjaya maka Indonesia haruslah membangun pesawat dengan kapasitas 80-90 orang.

R-80 pesawat yang mampu mengangkut 80-90 penumpang dapat terbang sejauh 400-800 mil laut (741-1482 km) dengan ketinggian jelajah mencapai 17.500 kaki. Jika sesuai rencana, R-80 akan mengudara pada tahun 2025.

B.J. Habibie meninggal dunia dalam usia 83 tahun, pada Rabu 11 September 2019, di RSPAD Gatot Soebroto, setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya.

Selamat jalan Mr. Crack, kami akan selalu mengingat karya dan prestasimu yang akan selalu menginspirasi dan menjadi panutan generasi penerus bangsa.

BACA JUGA : KALIAN TIM NASI PUTIH ATAU NASI MERAH?

Sumber: https://kepustakaan-presiden.perpusnas.go.id; https://teknologi.id; https://sains.kompas.com

Ella Irawan