Kebiri Kimia bagi Predator Seks

 

source : shutterstock

Seorang pemuda asal Mojokerto, bernama M. Aris (20) yang berprofesi sebagai tukang las, divonis penjara selama 12 tahun dan denda 100 juta rupiah subsider enam bulan pidana atas perbuatannya yang telah mencabuli sembilan anak di Mojokerto sejak tahun 2015 hingga 2018.

Tapi yang lebih menghebohkan lagi, ternyata ada hukuman tambahan yang harus diterima oleh Aris, yaitu hukuman Kebiri Kimia. Hukuman itu merupakan eksekusi pertama yang dilakukan di Indonesia.

Sebenarnya apa itu Kebiri Kimia? Kebiri pada pria artinya adalah prosedur di mana seseorang akan kehilangan fungsi testisnya, sehingga mereka kehilangan libido dan mandul.

Dijelaskan oleh pakar kesehatan pada doktersehat.com, kebiri kimia bisa dilakukan dengan dua jenis prosedur, yakni dengan pembedahan atau melalui proses kimia.

Proses pembedahan pada pria biasanya dilakukan dengan membedah testis sehingga efek kebiri ini akan bersifat permanen. Sementara itu, kebiri kimia dilakukan dengan menggunakan obat-obatan atau suntikan tertentu demi menurunkan kadar hormon testosteron.

Proses menyuntiknya bukanlah di bagian testis, namun di tubuh. Suntikan ini dapat mempengaruhi kinerja otak di dalam memproduksi hormon-hormon yang mempengaruhi gairah seksual seperti testosterone.

Obat tersebut dapat mengurangi kadar testosteron secara efektif pada pria, menurunkan gairah seks, serta mengurangi kemampuan mereka untuk dirangsang secara seksual.

Jika dilakukan dengan mengkonsumsi obat minum, biasanya hasilnya kurang efisien dalam menurunkan libido oleh karen itu proses penyuntikan yang lebih dipilih oleh pihak yang berwenang di mana penyuntikkan ini bisa dilakukan secara berulang setiap tiga bulan.

Apabila penyuntikan tidak dilakukan berulang maka efek dari kebiri kimia itu bisa hilang dengan sendirinya, namun jika dilakukan penyuntikkan dalam jangka panjang bisa berdampak buruk pada kesehatan, seperti meningkatnya terkena osteoporosis, penyakit jantung, diabetes bahkan dalam beberapa kasus bisa memicu kemandulan, masalah ereksi dan depresi.

Psikolog Seto Mulyadi, menyatakan ketidak setujuannya jika aturan itu dibentuk, menurut Kak Seto pada Medcom.id, “Ngerinya kontraproduktif. Karena di berbagai negara itu tak ada pedofil yang dihukum dengan begitu”.Kalaupun dilakukan kebiri hal tersebut dilakukan atas dasar kemauan pelaku sendiri bukan karena hukuman.

BACA JUGA : DAMPAK KABUT ASAP BAGI KESEHATAN

Sumber : https://hellosehat.com; https://www.medcom.id; https://doktersehat.com

Ella Irawan