Siapa sebenernya Dr. Moestopo?

 

Source : nasional.republika.co.id

Ratusan tukang gigi di Provinsi Jawa Barat yang tergabung dalam Serikat Tukang Gigi Indonesia (STGI) turun ke jalan menggelar aksi unjuk rasa di DPRD Jawa Barat untuk menolak RKUHP. Mereka merasa terancam dengan salah satu pasal dalam RKUHP tersebut.

Pasal yang dimaksud itu adalah Pasal 276 ayat (2) RKUHP, ‘Setiap orang yang menjalankan pekerjaan menyerupai dokter atau dokter gigi sebagai mata pencaharian baik khusus maupun sambilan dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Kategori V (Rp 500 juta)’.

Padahal menurut Ketua STGI Jawa Barat, Muchammad Jufri pada 2012, STGI telah memenangkan tuntutan di MK terkait peraturan Kemenkes tentang pencabutan izin praktik tukang gigi.

Di Indonesia sebenarnya profesi tukang gigi sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda bahkan sudah menguasai pasar walaupun jumlahnya sangat terbatas, dikarenakan tingginya biaya untuk menempuh pendidikan tersebut bahkan bagi siapa pun yang ingin menjadi dokter gigi, harus kuliah di luar negeri.

Melihat kondisi tersebut membuat penguasa kolonial Belanda terdorong untuk mendirikan lembaga pendidikan kedokteran gigi STOVIT (School tot Opleiding van Indische Tandartsen) di Surabaya, Jawa Timur, tahun 1928 dengan angkatan pertamanya berjumlah sekitar 21 orang. Tahun 1933 STOVIT berhasil meluluskan 80 dokter gigi.

Pada 5 Mei 1943, untuk mendapatkan dokter gigi yang berkualitas dalam waktu singkat, maka Jepang mendirikan Ika Daigaku Sika Senmenbu (Sekolah Dokter Gigi) di Surabaya, dibawah kepemimpinan Dr. Takeda.

Namun ternyata ada satu staf pengajar yang merupakan warga negara Indonesia di antara beberapa staff pengajar berkebangsaan Jepang, ia adalah Dr. R. Moestopo

source : wikipedia.org

Tahun 1952, Moestopo yang pada waktu itu berpangkat Kolonel dan menjabat sebagai Kepala Bagian Bedah Rahang RSPAD Gatot Subroto, mendirikan Kursus Kesehatan Gigi. Kursus itu diadakan di rumahnya sendiri di Jalan Merak 8, Jakarta dan berlangsung mulai pukul 15.00-17.00 WIB.

Kursus itu didirikan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan tukang gigi di seluruh Indonesia yang jumlahnya hampir 2.000 orang saat itu, juga untuk dapat memenuhi kriteria minimal Ilmu Kedokteran Gigi dalam hal hygiene dan anatomi sederhana sesuai himbauan Menteri Kesehatan pada Kongres PDGI tahun 1952.

Melihat antusias masyarakat yang cukup besar maka pada tahun 1957, dibuka kembali sebuah kursus dengan nama “Kursus Tukang Gigi Intelek”.

Kemudian sepulang dari Amerika Serikat, tahun 1958, Dr. Moestopo mendirikan Dental College Dr. Moestopo”. Lembaga ini mendapat pengakuan dari Departemen Kesehatan bahkan mendapat penghargaan dari Presiden RI pertama, Ir. Soekarno yang dianggap telah berhasil mendidik tenaga kesehatan gigi yang terjangkau oleh masyarakat kecil.

Pemerintah lalu menganjurkan agar status Dental Gollege ditingkatkan menjadi Perguruan Tinggi Swasta Dental College Dr. Moestopo” pada tahun 1960.

Pada akhirmya tahun 1961, “Perguruan Tinggi Swasta Dental College Dr. Moestopo”, statusnya ditingkatkan kembali menjadi “Fakultas Kedokteran Gigi Dr. Moestopo”. Fakultas inilah yang akhirnya menjadi cikal bakal Universitas Prof. Dr. Moestopo yang didirikan secara resmi tanggal 15 Februari 1961. Di tahun yang sama, Dr. Moestopo mendapat gelar Guru Besar/Profesor, dari Universitas Indonesia.

BACA JUGA : APA ITU SYNDROME WILLIAM

Sumber: https://moestopo.ac.id; https://www.beritasatu.com; nasional.republika.co.id

Ella Irawan