Psikopat, Masih Dapatkah di Tangani?

 

source : HiMedik.com

Reynhard Sinaga, seorang pria asal Indonesia sangat menggemparkan hampir di seluruh dunia, ia divonis hukuman penjara seumur hidup karena dinyatakan bersalah atas pemerkosaan yang ia lakukan terhadap 48 pria di Manchester, Inggris.

Ia pun diduga memperkosa sedikitnya 195 pria yang dilakukannya dalam kurun waktu 2,5 tahun dan merekam adegan perkosaan itu menggunakan handphone.

Menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi,Psikolog dari klikDokter, perilaku yang diperlihatkan Reynhard Sinaga kemungkinan karena adanya gangguan mental. Ada kecenderungan ke arah psikopat, namun hal tersebut memerlukan pemeriksaan secara langsung dan lebih terperinci lagi walaupun ada beberapa ciri psikopat yang mirip dengan karakter dari Reynhard, seperti:

  • Tidak memiliki hati nurani atau empati.

Tindakan Reynhard sangat merugikan orang lain, yaitu tega memerkosa secara kejam dan membius terlebih dulu.

  • Memiliki kemampuan untuk mengeksploitasi dengan penipuan atau kebohongan yang konsisten.

Dalam memanipulasi orang lain, pelaku akan menggunakan pesona atau kecerdasannya. Reynhard mampu berkenalan dan membawa banyak pria ke apartemennya sebelum diperkosa.

  • Berulang kali melanggar hak orang lain, mengintimidasi, tidak jujur, dan salah mengartikan sesuatu.

Pelaku bertindak spontan tanpa memikirkan perasaan pihak lain, serta memiliki rasa superioritas dan gemar memamerkan keunggulannya. Contohnya, suka dengan ketidakberdayaan korban dan mendokumentasikannya.

Penderita psikopat terkadang terlihat tenang dari tampak luar sehingga tidak mudah mendiagnosis seseorang sebagai psikopat. Mereka juga cenderung tampil sebagai pribadi yang menarik dan pandai memikat seseorang padahal kenyataannya mereka sama sekali tidak peduli (tidak memiliki empati).

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan psikopat?

Psikopat adalah gangguan yang membuat seseorang menjadi tidak memiliki hati nurani dan juga empati. Orang yang psikopat cenderung manipulatif, mudah berubah, dan sering kali berbuat kriminal.

Tidak ada yang mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan seseorang itu menjadi psikopat, tetapi kemungkinan merupakan kombinasi faktor genetika, lingkungan, dan interpersonal.

Selain itu pengalaman awal dari sebuah kehidupan terbukti meningkatkan risiko menjadi seorang menjadi psikopat, seperti pola asuh yang buruk yang hanya fokus kepada hukuman (bukan hadiah), juga pola asuh yang tidak konsisten, trauma masa lalu misalnya pernah menjadi korban pelecehan seksual sesama jenis ketika kecil.

Ada faktor resiko tambahan bagi seorang psikopat, yaitu perpisahan dari orang tua atau kurang keterlibatan dari orang tua, juga kekerasan fisik yang kerap diterima oleh si anak.

Para peneliti ada yang berpendapat bahwa struktur otak psikopat berbeda dengan orang normal. Hal inilah yang menyebabkan perilaku berbeda dan mempengaruhi fungsi fisiologis tubuhnya jika dibandingkan dengan orang normal. Sebagai contoh, pada saat melihat adegan horor biasanya orang normal akan berdebar-debar atau telapak tangan menjadi basah, namun berbeda pada orang psikopat yang akan tetap tampak biasa saja dan tenang.

Untuk itu lakukanlah penanganan sejak dini jika melihat anak yang sudah mulai dicurigai memiliki tanda-tanda seseorang mengalami psikopat, walau terapi yang diberikan oleh ahlinya belum tentu bisa menyembuhkan tapi paling tidak dapat mengurangi gejala juga faktor resiko yang lebih parah dikemudian hari.

BACA JUGA : DEPRESI TERSELUBUNG

Sumber: https://hellosehat.com; https://www.ciputrahospital; https://www.medcom.id; https://www.honestdocs.id/

Ella Irawan