Mengenang Sapardi Djoko Damono

https://id.wikipedia.org

Kabar duka baru saja datang dari dunia sastra Indonesia, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono atau yang dikenal dengan panggilan SDD, Minggu 19 Juli 2020, meninggal dunia di usianya yang ke 80 setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Eka BSD karena mengalami penurunan fungsi organ tubuhnya.

Anak sulung yang lahir di Surabaya, 20 Maret 1940, dari pasangan Sadyoko yang bekerja sebagai abdi dalem di Keraton Kasunanan dan Sapariah, dilahirkan pada bulan Sapar berdasarkan kalender Jawa, oleh karena itulah diberi nama Sapardi. Bahkan menurut kepercayaan orang Jawa, seseorang yang dilahirkan pada bulan Sapar, kelak di kemudian hari akan menjadi sosok yang pemberani dan teguh dalam keyakinan.

Masa mudanya banyak dihabiskan di Surakarta dan pada masa itu SDD sudah menuliskan sejumlah karya untuk ditampilkan pada majalah-majalah. Hobi menulis yang dimilikinya semakin berkembang saat menempuh kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, jurusan Bahasa Inggris.

Baca Juga: Asal Mula Annabelle

Menulis ternyata bukanlah satu-satunya kemampuannya di bidang seni, beliau juga pandai menari, bermain gitar, dan drama walaupun yang paling menonjol tetap di bidang sastra.

Kakeknya selain bekerja sebagai abdi dalem juga merupakan seorang dalang, maka tidaklah heran jika SDD memiliki sedikit kemampuan dalam permainan wayang.

Dikutip dari koranmadura.com, SDD mengaku tidak pernah mengalami kesulitan dalam menuangkan ide-ide tulisannya. Apa saja yang terlintas dibenaknya dapat dituangkan menjadi sebuah tulisan, baik berupa puisi, cerpen maupun novel.

Ia juga mengatakan, “Pagi jam 3 pikiran masih segar, saya pernah dalam semalam menulis sampai 18 sajak”.

”Hujan bulan Juni” merupakan salah satu buku kumpulan puisi yang dibuatnya selama 30 tahun, mulai dari tahun 1964 hingga 1994. Di antara puisi-puisi yang terdapat di dalamnya ada salah satu yang berjudul “Pada Suatu Hari Nanti”.

Berikut sedikit cuplikan dari Puisi “Pada Suatu Hari Nanti”

Pada suatu hari nanti

Jasadku tak akan ada lagi

Tapi dalam bait-bait sajak ini

Kau takkan kurelakan sendiri.

Sebuah puisi yang sederhana namun memiliki cita rasa yang tinggi, sehingga tidak jarang ia banyak mendapat pujian dari kesederhanaan setiap puisi yang dihasilkannya.

Salah satu karya puisinya yang berjudul “Aku ingin” bahkan menjadi inspirasi seorang Garin Nugroho untuk menggarap sebuah film “Cinta dalam Sepotong Roti”.

Penyair yang menyelesaikan program doktornya di Universitas Indonesia dengan predikat sangat memuaskan dengan disertasi mengenai novel-novel di Jawa tahun 1950, mempunyai riwayat karier yang cukup panjang di bidang pendidikan.

Dikutip dari laman resmi Kemdikbud, SDD pernah menjadi Ketua Jurusan Bahasa Inggris, IKIP Malang Cabang Madiun, tahun 1964-1968. Kemudian diangkat sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra-Budaya, Universitas Diponegoro, Semarang, tahun 1968-1973. Sejak 1974, ia bekerja sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia.

Banyak penghargaan yang pernah diraihnya, di antaranya, tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Selain itu ia juga merupakan salah seorang pendiri Yayasan Lontar

Sumber: https://id.wikipedia.org; https://m.merdeka.com/; https://www.indonesiakaya.com/;
https://www.koranmadura.com/; https://ktpuisi.blogspot.com/; https://www.kompas.com/

Ella Irawan
Ella I

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 4 =