Bolehkah Kita Curhat di Media Sosial?

https://mix.co.id/

Mungkin ada orang yang merasa lega jika sudah curhat di media sosial, bahkan menganggap jika media sosial yang mereka miliki berfungsi selain untuk memberikan informasi juga sebagai “tempat sampah” menyampaikan keluh kesah bahkan kemarahan yang dialaminya pada saat itu. Mereka merasa lega setelah berkeluh kesah di media sosial karena merasa tidak mudah untuk menceritakan sesuatu dengan orang yang bersangkutan secara langsung.

Kita adalah mahluk yang selalu mencari cara bagaimana agar suara kita dapat didengar. Namun apakah dengan melakukan hal itu maka akan menyelesaikan masalah yang ada?

Pengakuan sosial dari orang-orang di media sosial pada akhirnya mampu memberikan perasaan bahagia bagi seseorang yang menggunakannya. Pengakuan sosial itu bisa didapat ketika seseorang bercerita tentang kehidupan pribadinya (curhat) yang kemudian mendapatkan respon positif dari banyak orang di media sosial.

Menurut Dale Carnegie, seorang penulis dari Amerika, dalam penelitiannya mengatakan bahwa ”kebutuhan untuk didengar ternyata menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia, yang setara dengan kebutuhan makan, kesehatan, dan seks”.

Menurut Psikolog klinis Astrid Wen, Mpsi, pada doktersehat.com, media sosial memang bisa dijadikan sebagai tempat untuk mengeluarkan unek-unek. Namun yang disayangkan adalah banyak yang menggunakan untuk tempat membeberkan masalah rumah tangga maupun masalah pribadi yang seharusnya tidak semua orang boleh mengetahuinya.

Baca Juga: Forgiveness Therapy, Mengurangi Luka Emosi

Hal itu bisa terjadi, artinya tidak ada komunikasi yang baik pada satu pasangan sehingga salah satu dari mereka memilih untuk curhat di media sosialnya. Dengan melakukan hal itu ia berharap, pasangannya dapat melihat jika sewaktu-waktu membuka media sosial miliknya.

Sebenarnya jika melakukan curhat di media sosial sama juga dengan menelanjangi diri sendiri; masalah pribadi menjadi konsumsi umum. Mungkin awalnya ada yang merasa kasihan tapi justru setelah itu banyak yang berakhir sebaliknya, bahkan tak jarang menjadi bahan pergunjingan.

Astrid lebih menyarankan kita untuk memperbaiki komunikasi jika memang ada masalah dengan orang lain hal sehingga tidak perlu sampai curhat di media sosial.

Ada baiknya pula bagi kita untuk menggunakan media sosial secara benar dan bijak, sehingga kita menyadari mana yang merupakan ranah publik dan aman untuk dibagikan serta mana ranah pribadi yang sebaiknya disimpan rapat-rapat.

Sadarilah bahwa media sosial bukanlah diri kita sebenarnya, karena kita merupakan manusia yang hidup di dunia nyata.

Sumber: https://doktersehat.com; https://pijarpsikologi.org/

Ella Irawan
Ella I

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen + 5 =