Kisah Amala dan Kamala si anak serigala

https://paanovrtd.wordpress.com

Kisah ini di awali pada tahun 1920 tepatnya di Desa Midnapore, India Timur. Penduduk setempat sering dikejutkan dengan kemunculan makhluk aneh yang selalu menampakkan diri bersama gerombolan serigala.

Mahluk aneh itu memang terlihat sangat berbeda dengan kawanan serigala lainnya, dari bentuk badan dan suaranya tampak sangat menyerupai manusia, ditambah lagi dengan rambutnya yang kusut dan panjang

Keanehan ini pun diceritakan kepada seorang pendeta yang bernama Joseph Singh. Untuk menenangkan warganya akhirnya sang pendeta berjanji untuk menyelidikinya.

Hingga pada suatu malam ketika Singh tengah bersembunyi di atas pohon, tiba-tiba ia dikejutkan dengan munculnya serigala dewasa yang diikuti oleh anak-anaknya dari sebuah lubang besar.

Ternyata apa yang diduga selama ini terbukti, memang benar ada mahluk aneh yang mengikuti serigala dewasa tadi. Setelah diamati dari dekat, mereka merupakan perwujudan dua orang anak manusia yang berjenis kelamin perempuan.

Usianya ditaksir masih di bawah umur, yang kecil kira-kira 18 bulan, sedangkan yang lebih besar sekitar 7 tahun. Mereka berdua berlari menggunakan kedua tangan dan kaki, walaupun terlihat aneh namun kegesitan mereka tidak kalah dibandingkan dengan anak-anak serigala lainnya.

Baca Juga: Kisah Tragis Seorang Wanita Malam di Batavia

Setelah diyakini benar jika keduanya merupakan manusia, akhirnya dengan dibantu penduduk setempat, kedua anak perempuan itu berhasil ditangkap, lalu dibawalah ke sebuah panti asuhan di Mindapore, India, tempat Singh dan istrinya tinggal.

Mereka diberi nama Amala untuk sang adik dan Kamala untuk kakaknya. Namun setelah tinggal di panti beberapa lama, pihak panti merasakan kesulitan untuk mengembalikan sifat-sifat asli mereka. 

Perilaku kedua anak itu benar-benar selayaknya seekor serigala, baik dari tingkah laku maupun penampilannya. Mereka tidak membiarkan dirinya berpakaian, juga selalu menggigit jika ada orang yang bermaksud memberi mereka makan.

Telapak tangan dan lutut keduanya mengalami kapalan tebal karena selalu berjalan dengan cara merangkak. Mereka menjilat semua cairan dengan lidah dan makan dalam posisi berjongkok. Makanan yang mereka sukai adalah daging mentah.

Amala dan Kamala selalu berkeliaran setiap malam sambil melolong dan mengarahkan kepala dan moncongnya ke atas, dengan lidah yang terjulur.

Walaupun di saat siang hari mereka tidak dapat melihat dengan baik namun mereka mempunyai pendengaran dan penciuman yang sangat tajam bahkan dari jarak jauh.

September 1921, Amala jatuh sakit dan tak lama kemudian tepatnya tanggal 21 September 1921 ia meninggal dalam keadaan belum dapat berdiri maupun bicara selayaknya manusia normal karena mengalami infeksi ginjal. Kamala menangis melihat adiknya meninggal, ia dapat merasakan kepergian Amala.

Sepeninggal Amala, Nyonya Singh merawat Kamala dan bertekad sebisa mungkin akan menjadikannya seperti manusia normal pada umumnya.

Akhirnya setelah berjuang tanpa lelah selama lima tahun, Kamala menunjukkan kemajuan dari segi intelektualitasnya. Ia bisa berjalan sedikit tegak walaupun tidak pernah mahir dan sering kali kembali ke posisi merangkak ketika harus pergi ke suatu tempat dengan cepat.

Kamala mulai dapat menerima makanan dari piring, mengerti konsep warna. Ia pula belajar banyak tentang bahasa dan berkata-kata, perbendaharaan kata yang dimilikinya sekitar 30 buah kata. Melihat kemajuan Kamala, Psychological Society of New York meminta izin kepada istri Singh untuk mengekspos Kamala ke ruang publik.

Permintaan itu disetujui, namun sejak saat itu kondisi Kamala semakin menurun hingga ketika berusia ke 16 Kamala pun meninggal, tepatnya pada tanggal 14 November 1929 karena penyakit TBC.

Namun yang sangat disayangkan, hingga akhir hayatnya asal usul Amala dan Kamala tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, siapa orang tuanya dan bagaimana keduanya bisa sampai diasuh oleh serigala.

Banyak kalangan dari antropoligis dan dokter yang meragukan kebenaran cerita tersebut. Bahkan seorang ahli bedah dari Perancis bernama Serge Aroles menyimpulkan dalam bukunya L’Enigme des enfants-loup (Enigma of the Wolf-Children, 2007) bahwa cerita itu bohong. Kedua gadis itu ternyata memiliki gangguan perkembangan syaraf dan telah dieksploitasi untuk mengumpullkan dana bagi panti asuhan.

Foto-foto yang memperlihatkan kedua gadis serigala sedang berjalan dengan empat kaki, makan daging mentah dan sebagainya diambil pada tahun 1937, setelah kematian mereka berdua dan mereka berpose atas permintaan Singh.

Sumber: https://www.beritaunik.net; https://nova.grid.id; https://www.republika.co.id/; https://www.kaskus.co.id; https://metropekanbaru.com; https://en.wikipedia.org

Ella Irawan
Ella I

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ten − four =