Konsep Pembelajaran Jarak Jauh dan Daring ?

https://www.pexels.com/

Banyak masyarakat Indonesia yang keliru tentang konsep pembelajaran jarak jauh (PJJ). Menurut Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Plt. PAUD Dikdasmen Kemendikbud), Hamid Muhammad pada Kompas.com “PJJ dibagi menjadi dua jenis yaitu pembelajaran luar jaringan (luring) dan pembelajaran dalam jaringan (daring)”.

Pembelajaran luring yaitu melalui buku pegangan siswa dan guru, selain itu juga termasuk mengakses lewat televisi dan radio. Pendidik bisa memanfaatkan program Belajar dari Rumah lewat TVRI jika memiliki akses televisi

Pembelajaran daring adalah pembelajaran yang menggunakan model interaktif berbasis internet dan Learning Manajemen System (LMS).” Pembelajaran daring dilakukan secara interaktif menggunakan Zoom atau Google Meet.

Baca Juga: Menjaga Kesehatan Mental Saat Physical Distancing

Namun bukan berarti pembelajaran jarak jauh ini tidak menimbulkan hambatan. Menurut Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo, pada Kompas.id: “Pembelajaran disebut bermakna ketika ada ikatan emosional antara guru dan murid. Keakraban guru dengan murid penting untuk menggali potensi siswa, yakni menumbuhkan keterampilan berpikir dan berperilaku”.

Hal senada disampaikan pula oleh Bapak Dede Iskandar, seorang guru olah raga yang mengajar di salah satu SMP swasta di Jakarta, “Pendidikan jasmani sangat identik dengan praktek, dan dalam kegiatan praktek tersebut selain membutuhkan contoh juga sangat membutuhkan yang namanya perbaikan gerakan. Karena pada hakekatnya kemampuan gerak dasar setiap anak itu berbeda. Sehingga ketika kita melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), kita tidak bisa melakukan perbaikan gerakan secara detail kepada anak-anak”. “Selain itu, antusiasme dan kebebasan gerak mereka juga agak terhambat karena mereka terpaku dengan monitor”, lanjut Bapak Dede lagi.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kenyataannya kemampuan guru dalam mengelola Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), juga mengalami kendala lain disebabkan karena keterbatasan kepemilikan media gawai pintar, dan yang tidak kalah penting adalah keterbatasan akses internet. Dan mayoritas guru lebih memahami penggunaan media sosial seperti Whatsapp, instagram, line dan facebook.

 Hasil survey menunjukkan pula bahwa hanya 19,1% responden yang terbiasa menggunakan aplikasi daring; kenyataan ini membuat metode pembelajaran jarak jauh menjadi tidak menarik.

Para murid di daerah terpencil, daerah tertinggal maupun yang disabilitas, menyampaikan keluhan dan masukan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem, Anwar Makarim, yang dilakukan dalam sebuah pertemuan secara daring.

Beberapa hal yang disampaikan para murid itu adalah akses teknologi yang belum merata, seperti jaringan internet, listrik, dan juga alat komunikasi; tidak semua anak yang tinggal di daerah terpencil maupun daerah tertinggal dapat memilikinya.

Lalu secara psikologis bagaimanakah dampaknya sistem pembelajaran ini, khususnya bagi murid yang tinggal di perkotaan? Menurut Novita Maulidya Djalal selaku Psikolog Pendidikan pada www.psikogenesis.com: “Pembelajaran daring tidak mengubah kepribadian, namun dapat memengaruhi rutinitas hidup individu. 

Pembelajaran daring memiliki pengaruh positif bagi beberapa orang, seperti tingkat kepercayaan diri hingga kesiapan belajar”.

“Secara psikologis, para peserta didik yang cenderung tertutup dan pemalu jika aktif berdiskusi di kelas, melalui daring ini, peserta didik tersebut dapat lebih mempersiapkan diri dan lebih percaya diri untuk turut terlibat dalam proses diskusi melalui e-learning,” jelasnya.

Tambahnya lagi, berapa hal yang menyebabkan pembelajaran daring menjadi kurang efektif adalah kurangnya keterampilan sosial, komunikasi yang terbatas dan memerlukan motivasi yang tinggi.

Lalu apa yang harus dilakukan setelah melihat dampak dari metode pembelajaran seperti ini? Pertama, harus menerima kondisi, lalu munculkan pikiran positif yang otomatis akan memunculkan emosi positif, berserah pada Kekuasaan Allah SWT, dan melakukan aktivitas positif. 

“Setelah menyadari situasi, lalu kita juga mulai berupaya memahami diri kita apa yang kita ingin capai sehingga tetap dapat mengoptimalkan sumber daya yang masih kita miliki,”

Narasumber: Dede Iskandar

Sumber: https://republika.co.id/https://bebas.kompas.id/https://pedia.gatra.com/;  https://edukasi.kompas.com/;  http://www.psikogenesis.com/ https://www.kompas.com/

Ella Irawan
Ella I

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × two =